Senin, 12 Agustus 2013

Rantau 1 Muara

Biarkanlah hari terus berlari
Tetaplah jadi manusia mulia, apapun yang terjadi
Janganlah galau dengan tiap kejadian sehari-hari
Karena tak ada yang abadi, semua kan datang dan pergi
Jadilah pemberani melawan rasa takut sendiri
Karena lapang dan tulus adalah dirimu sejati
Janganlah pandang hina musuhmu
Karena jika ia menghinamu, itu ujian tersendiri bagimu
Takkan abadi segala suka serta lara
Takkan kekal segala sengsara serta sejahtera

Merantaulah. Gapailah setinggi-tingginya impianmua
Berpergianlah. Maka ada lima keutamaan untukmu
Melipur duka dan memulai penghidupan baru
Memperkaya budi, pergaulan yang terpuji,
Serta meluaskan ilmu


Diadaptasi dari bait syair-syair Imam Syafii (767-820)

Tulisan Pembuka Novel Rantau 1 Muara

Rabu, 24 April 2013

Hidup yang Memberi sarana Kehidupan




Tiba-tiba sadar bahwa bekas luka ini belum juga bisa tersembuhkan. Padahal kecelakaan itu Sudah terjadi lama, Ya Allah berikan kecepatan dalam penyembuhan.  Aku ingin terus menjadi perantara kehidupan mereka.
***
Aku hanya bingung dengan jarak yang memisahkan dan mematikan. Aku juga tak habis fikir dengan apa yang sebenarnya ada dalam bayangan. Kemewahan duniawi yang mereka rasakan tidakkah terlalu murah harganya jika dibandingkan dengan semilir angin yang aku hasilkan.
Tanda tanya itu belum juga terjawab saat mereka mendirikan mopnumen-monumen yang ditanda tangani pejabat Jakarta. Untuk apa ya? Melukis sejarah? Bisa jadi, tapi yang lebih tidak  masuk nalar adalah patung-patung selamat datang itu, menggambarkan keagungankah? Menyiratkan keangkuhan? Bagiku itu kembali ke alam jahiliah. Memuja patung. Bukankah tidak ada mulianya ya? Berjuta-juta dimusnahkan untuk membuat sebuah benda mati tak berfungsi, lebih baik dialukasikan saja untuk perawatan dan pelestarian atau biaya perang fisabilillah.
***

Minggu, 14 April 2013

Ringkasan Buku Komitmen Muslim Sejati Karya Fathi Yakan


Kita muslim? Ya benar adanya. Warisan juga memang tidak salah. Tetapi ketika sudah mengetahui seperti ini, tentu tidak serta merta menerima semua itu begitu saja. Ketika kita mengaku muslim tentu kita akan mencari ini dan itu, mengapa begini dan mengapa begitu. Dalam bab pertama dalam buku “Komitmen Muslim Sejati”  seseorang yang mengaku muslim tentu tidak hanya cukup dilisannya saja tetapi juga harus mengislamkan aqidah, ibadah, akhlak, keluarga, rumah tangga, kita juga harus mengalahkan nafsu, dan harus juga meyakini bahwa masa depan adalah milik Islam.
Beraqidah, jelas aqidah yang lurus yang juga memuat beragam konsekuensi diantaranya menyakini pencipta alam adalah Allah, mengimani bahwa tidak ada yang diciptakan sia-sia, mengimani Nabi, Rasul, dan kitab-kitab-Nya, meluruskan tujuan hidup untuk beribadah kepada-Nya, meyakini balasan untuk orang mukmin adalah surga dan untuk orang kafir adalah neraka, menanamkan dalam hati bahwa manusia melakukan kebaikan dan kejahatan dengan ikhtiar dan kehendak-Nya, meyakini ketetapan syariat adalah hak Allah yang tidak boleh dilanggar, mengetahui nama dan sifat Allah, bertafakur mengenai ciptaan Allah, senantiasa menginternalisasikan bahwa sifat-sifat Allah berbeda dari makhluk-Nya, senantiasa takut pada-Nya, mengingat-Nya, cinta, tawakal, menggantungkan diri, bersyukur, menyadari pengawasan-Nya, dan selalu beristigfar memohon ampun pada-Nya.

Jumat, 29 Maret 2013

Manajemen Waktu

 
 
Detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun akankah hanya sia-sia? Padahal detik-detik itu bermakna, menit-menit itu mampu mampu membuat orang terlena, dan jam demi jam hidup kita akan dimintai pertanggung jawabannya. Akankah kita hanya diam dan berceloteh “Hidup saya, biarkan saja mengalir seperti air” Mudah sekali apabila mengalir seperti air, tidak kah kita sadar bahwa air itu mengalir dari tempat yang permukaannya tinggi ke permukaan yang lebih rendah.
Kualitas diri harusnya semakin hari semakin tinggi, bukan malah semakin kebawah. So? Waktu... Ya Allah telah menjawab jauh-jauh hari sebelum kita berfikir ke arah sana. Allah bersumpah dalam banyak ayat di Al-Quran. Allah bersumpah atas nama masa, waktu duha, atas nama pagi dan juga petang. Dalam surah An-Nasr, Asy-Syam, Al-Fajr, Ad-Dhuha, dan Al-Lail. Isi sumpah ini bukan perkara yang biasa Allah bersumpah berkali-kali menunjukan bahwa pentingnya waktu tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Selasa, 26 Maret 2013

Bedah Buku “Cahaya Abdi Muhamad” Memberi Inspirasi Kepemimpinan Sejati




Jumat, tanggal 16 Maret 2013 jajaran dekanat Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta  (FIS UNY) gelar acara bedah buku “Cahaya Abadi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Kebanggaan Umat Manusia”. Acara ini merupakan salah satu acara dari sejumlah rangkaian Dies Natalis UNY yang ke-49.
Bedah buku ini berlangsung di Ruang Ki Hajar Dewantoro FIS UNY yang dihadiri oleh Wakil Rektor I, Dekan Fakultas Ilmu Sosial, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Fakultas Ilmu Pendidikan, juga para guru besar dan dosen serta para mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta dari beragam fakultas.

Sabtu, 23 Februari 2013

Sandiwara Cinta


Kala cinta pada manusia adalah segalanya
Indahnya impian dan harapan
Telah membutakan mata
Hingga menipuku dalam sandiwara sempurna
Dan kudapat hanya luka mendalam yang sulit kusembuhkan

Kucoba seperti tak ada apa-apa kucoba yakinkanku kan baik-baik saja
Akhirnya kulelah bertahan
Dan ingin kucurahkan segala rasa kekecewaan

Reff:
Terasa menyesakan dada
Kala cinta pada manusia
Dikhianati tinggalkan ku sendiri
Hanya air mata bicara
Tanda hati hancur terluka
Kau masih saja menemani setia

Tiada Kau lelah akan keluhan
Tiada Kau marah karena bosan
Mendengarkanku
Yang telah melupakan-Mu
Aku melupakan-Mu

Kini aku mengerti bahwa
Cinta-Mu saja yang tak akan pernah mengecewakanku

Back to Reff