Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 April 2013

Hidup yang Memberi sarana Kehidupan




Tiba-tiba sadar bahwa bekas luka ini belum juga bisa tersembuhkan. Padahal kecelakaan itu Sudah terjadi lama, Ya Allah berikan kecepatan dalam penyembuhan.  Aku ingin terus menjadi perantara kehidupan mereka.
***
Aku hanya bingung dengan jarak yang memisahkan dan mematikan. Aku juga tak habis fikir dengan apa yang sebenarnya ada dalam bayangan. Kemewahan duniawi yang mereka rasakan tidakkah terlalu murah harganya jika dibandingkan dengan semilir angin yang aku hasilkan.
Tanda tanya itu belum juga terjawab saat mereka mendirikan mopnumen-monumen yang ditanda tangani pejabat Jakarta. Untuk apa ya? Melukis sejarah? Bisa jadi, tapi yang lebih tidak  masuk nalar adalah patung-patung selamat datang itu, menggambarkan keagungankah? Menyiratkan keangkuhan? Bagiku itu kembali ke alam jahiliah. Memuja patung. Bukankah tidak ada mulianya ya? Berjuta-juta dimusnahkan untuk membuat sebuah benda mati tak berfungsi, lebih baik dialukasikan saja untuk perawatan dan pelestarian atau biaya perang fisabilillah.
***

Minggu, 30 Desember 2012

Biraswandana


            Sekelebat guratan jingga terlihat jelas mencolok mata, namun ketakutan pada malam itu tak akan mudah hilang dari ingatan. Mereka seenaknya saja menyombongkan diri dengan kemampuan yang sungguh tak bisa dibuktikan. Bukan lagi tentang kota tua yang ditinggalkan penghuninya namun lebih kepada isyarat makna yang ia membekas disana.
            Markui tahu bahwa mereka hanya menginginkan kepingan harta yang terkubur di perut bumi kampung kami. Tapi mengapa ia dengan sengaja menghancurkan demi seorang yang ia anggap mencintainya. Gelap memang kehidupan orang-orang disana. Bergelimangan harta tanpa makna.